Ceramah di Tarwih KAHMI Makassar, Prof Marsuki DEA Soroti Pergeseran Ekonomi Global

KAHMI Makassar
13/03/2026

Marsuki DEA di KAHMI Makassar

MAKASSAR – Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Kota Makassar menggelar kegiatan buka puasa dan tarawih bersama yang dirangkaikan dengan penyampaian refleksi ekonomi bertajuk “Navigasi Ummat Menyikapi Krisis Ekonomi Perang Global” di Hotel Claro Makassar, Kamis (12/3/2026).

Dalam pemaparannya, ekonom dan pemikir kebijakan publik Prof Marsuki DEA menyoroti dinamika geopolitik global yang dinilai tengah memasuki fase “ekonomi perang”, yakni kondisi ketika kekuatan ekonomi dunia tidak lagi semata berorientasi pada efisiensi pasar, tetapi pada keamanan dan ketahanan ekonomi masing-masing negara.

Menurutnya, pergeseran tersebut terlihat dari munculnya praktik friend-shoring system, yaitu kecenderungan negara hanya menjalin perdagangan dengan negara yang memiliki kedekatan politik atau aliansi strategis.

“Pergeseran besar terjadi dalam sistem ekonomi global. Basisnya bukan lagi efisiensi semata, tetapi keamanan dan ketahanan ekonomi untuk menjaga supremasi kekuasaan,” ujar Marsuki dalam pemaparannya.

Komoditas Strategis Jadi Senjata Ekonomi

Marsuki menjelaskan bahwa dalam situasi geopolitik saat ini, sejumlah komoditas strategis seperti minyak, gas, dan pangan menjadi “senjata ekonomi” yang diperebutkan negara-negara besar.

Kondisi tersebut mendorong munculnya kebijakan proteksionisme di berbagai negara produsen komoditas utama. Dampaknya, terjadi ketegangan geopolitik yang dapat berujung pada konflik terbuka maupun perang ekonomi.

Akibatnya, berbagai hambatan muncul dalam sistem perdagangan global, seperti blokade jalur maritim, sanksi ekonomi dan keuangan, hingga terganggunya rantai pasok barang dan jasa. Kondisi ini turut memicu kenaikan harga komoditas strategis di pasar dunia.

Ia menilai situasi tersebut memberikan tekanan bagi berbagai sektor ekonomi, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.

“Pemerintah menghadapi tekanan fiskal, otoritas moneter kesulitan menjaga stabilitas nilai mata uang, pelaku usaha menghadapi produktivitas rendah, sementara masyarakat harus menanggung penurunan daya beli,” jelasnya.

Bukber MD KAHMI Makassar

Ujian Kehormatan Ekonomi Bangsa

Dalam perspektif nasionalisme dan nilai keislaman, Marsuki menilai situasi ekonomi global saat ini merupakan ujian bagi kemandirian ekonomi bangsa.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai “ujian kehormatan ekonomi bangsa”, karena banyak negara berkembang menghadapi tekanan dari blok ekonomi global yang sarat kepentingan politik dan ekonomi.

Marsuki menekankan pentingnya pemerintah menjaga kedaulatan ekonomi nasional dengan kembali menegakkan prinsip-prinsip ekonomi yang berpihak pada kepentingan rakyat sebagaimana amanat konstitusi.

Menurutnya, kebijakan ekonomi harus diarahkan untuk memastikan distribusi sumber daya berlangsung adil dan tidak hanya dikuasai kelompok tertentu.

Panduan Syariat Menghadapi Krisis

Selain pendekatan kebijakan ekonomi, Marsuki juga mengingatkan pentingnya kesiapan spiritual dan sosial masyarakat dalam menghadapi potensi krisis ekonomi global.

Ia menyampaikan beberapa panduan yang dapat dilakukan umat, antara lain memperkuat aspek spiritual melalui istigfar, taubat, dan doa; menerapkan prinsip hidup sederhana dan hemat; serta memperkuat solidaritas sosial melalui sedekah dan saling membantu di lingkungan terdekat.

Dalam konteks bisnis, ia menegaskan pentingnya menjaga moralitas ekonomi, termasuk larangan menimbun barang untuk mencari keuntungan di tengah kesulitan masyarakat.

“Krisis ekonomi bukan sekadar fenomena angka statistik, tetapi juga ujian keimanan dan solidaritas umat,” katanya.

Dorong Kemandirian Ekonomi Nasional

Marsuki menutup pemaparannya dengan menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menghadapi krisis global, terutama karena kekayaan sumber daya alam yang melimpah, khususnya di sektor pangan dan energi.

Namun, keberhasilan tersebut sangat bergantung pada kebijakan ekonomi yang tepat dari pemerintah, stabilitas sektor keuangan, serta perilaku ekonomi masyarakat yang produktif dan tidak spekulatif.

“Jika kemandirian dan kedaulatan ekonomi benar-benar ditegakkan, maka cita-cita para pendiri bangsa untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur bukan hal yang mustahil,” ujarnya. (*)